Dinding pesantren adalah laboratorium peradaban. Banyak orang tua menginvestasikan masa depan anak mereka di pesantren demi mencetak generasi emas yang tangguh secara intelektual, spiritual, dan fisik. Namun di balik investasi besar tersebut ada bom waktu kesehatan yang berdetak pelan tetapi pasti, siap melumpuhkan masa depan mereka jika masalah kesehatan hanya didata tapa diobati secara tuntas. Melihat dari kacamata seorang guru yang berinteraksi langsung dengan anak usia remaja setiap hari. Ketika program Cek Kesehatan Gratis (CKG) menerjunkan petugas untuk mencatat siapa saja yang batuk atau berdarah, kita merasa pemerintah telah hadir. Namun, hadir saja tidak pernah cukup jika setelah jarum suntik dan alat ukur ditarik, para santri yang terdeteksi sakit hanya dibiarkan membawa pulang status "berpenyakit" tanpa ada kejelasan obat di tangan. Menjadikan santri sekadar bahan pengisi kuota statistik kesehatan adalah pembiaran yang dingin dan berbahaya. Kabut mengepung Kabupat...
Well, aku tak tau apakah tulisan ini layak dipublikasikan atau tidak haha.. meskipun akan kupastikan tulisan ini tak mengandung sara supaya kamu merasa aman saat membacanya. Halo.. kembali lagi di senjumput garam, blog yang belum memiliki pengikut satupun sampai detik ini (kasian banget :v) dan blog yang mungkin kalo hidup seekor laba-laba maka ukuran laba-labanya udah sebesar spiderman. Okay, aku mau bahas tentang seblak. kalian boleh tertawa.. memandangku dengan tatapan aneh, sambil ngebatin ( Astagfirullah jeni, segitu nganggurkah dirimu, sampai tentang seblak aja ditulis). haha.. ini bukan perihal nganggur atau tidak, tapi ini bicara tentang bagaimana sampai detik ini masih tumbuh obsesi menjadi seorang penulis. Iya, seseorang yang lihai menulis apapun yang melintas di kepalanya, seseorang yang bisa healing tanpa keributan dalam dunia nyata namun luapannya berubah menjadi kalimat berbaris rapi. Anggap saja coretan ini adalah catatan kecil yang nantinya akan menjadi lawakan di...